Terapkan Sistim Informasi Desa: Nagari Sitapa menjadi kunjungan wisata edukasi informasi
Warta Nagari--Pada hari senin, 27 Desember 2021 menjadi hari penting bagi Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kab. Pesisir Selatan, dan juga Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kab. Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Pasalnya, dua kecamatan ini agaknya mendapatkan sesuatu pelajaran yang penting dari nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang.
Apa itu? Ya, dua kecamatan yang datang bersamaan ini, berkunjung juga dengan tujuan yang sama pula. Yaitu, sama-sama saling belajar, sama-sama berbagi pengalaman, bagaimana penerapan Sistim Informasi Desa (SID) berbasis online. Sistim Informasi Desa (SID) yang dikembangkan oleh satu lembaga yang bernama Opendesa. OpenDesa, sebuah perkumpulan desa digital yang memanfaatkan apa yang disebut Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Perkumpulan ini ingin membuka lebar-lebar pintu informasi untuk masyarakat luas.
Benar saja, dalam hal ini, pemerintah desa, sebagai lembaga publik, mestinya perlu satu wadah untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya. Membuka lebar-lebar informasi yang memang menjadi hak masyarakat, serta memberikan layanan yang efektif, cepat, bahkan bisa saja mengurus keperluan surat menyurat tidak perlu datang ke kantor desa, mungkin cukup dari rumah saja. Inilah kemudian yang ingin dikembangkan oleh komunitas OpenDesa ini.
“Kami ingin desa kami bisa hadir di google, kami ingin menginformasikan apa saja yang dilakukan pemerintah desa kepada masyarakat, dan kami ingin melayani masyarakat kami dengan cepat dan muda,” setidaknya begitu beberapa tema diskusi yang disampaiakan oleh rombongan Kec. Linggo Sari Baganti, Kab. Pesisir Selatan.
Berempat di Bumi Sikabu resto, Roni Putra alias Keron yang diberi kesempatan sebagai fasilitator siang itu menerangkan, bahwa secara sederhana setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, mendapatkan data. Kemudian data-data yang kita dapatkan itu diolah sedemikian rupa. Pengolahan data juga bisa ke dalam banyak bentuk. Misalnya, menjadi artikel, menjadi foto-foto, menjadi poster atau selebaran-selebaran, atau mungkin saja menjadi video. Kedua, setelah data diolah, bagaimana kemudian data itu bisa disebar atau diinformassikan ke masyarakat.
Bagaimana caranya? Ya, tentu dengan apa yang kita sebut dengan sistim informasi di atas. Baik itu melalui website, instagram, facebook, youtube, dan lain sebagainya. Dan masyarakat atau siapapun tinggal mencari informasi apa saja yang ingin mereka dapatkan.
Terkait layanan, kata Keron lagi, misalnya cetak mencetak surat, admin di kantor desa tinggal mengklik surat apa yang hendak di urus masyarakat. Katakanlah itu surat keterangan domisili. Admin tidak perlu lagi menanyakan biodata masyarakat yang mengurus surat. Admin tinggal meminta KTP dan memasukkan nomor NIK atau nama yang bersangkutan. Dengan sendirinya, komputer akan mengisi biodata sipengurus mulai dari nama, alamat, pekerjaan, dan lain sebagainya. Setelah selesai, admin tinggal mengunduh atau mendownloadnya. Dan, pejabat desa tinggal menanda tangani serta menerakan stempel. Semudah dan secepat itu sistim kerjanya.
Kemudian, di lain tempat, di ruang pertemuan nagari, sekretaris nagari Herry Wanda juga berjibaku dengan rangkaian pertanyaan-pertanyaan dari Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kab. Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Mulai dari pertanyaan dasar, bagaimana memulai OpenSID, apa saja yang dibutuhkan untuk OpenSID, apa saja keuntungan menggunakan OpenSID.
Namun, kenapa rupanya dua kecamatan ini memilih nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang sebagai tempat berkunjung? Tentu saja karena nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang sudah memulai sejak lama. Setidaknya sejak 2016. Bahkan, Komisi Informasi Provinsi Sumatera Barat berturut-turut memberikan anugrah untuk keterbukaan informasi publik serta penghargaan untuk nagari yang informatif.
“Kami telah menerima banyak kunjungan serupa ini. Mungkin sudah puluhan. Agaknya, OpenDesa telah memberikan kami banyak kemudahan. Barangkali karena kami terlebih dahulu telah menggunakannya, mungkin karena itu dianggap perlu untuk dijadikan untuk studi banding. Padahal, semua fitur-fiturnya sudah disiapkan oleh OpenDesa. Sebenarnya kita tinggal mengisi data-datanya saja,” tutup Walinagari Nofrizal disela-sela diskusi.
Mella Yanuarti
21 Desember 2022 13:35:57
semoga amanah...